Tuesday, 13 November 2012

kajian tumpang sari tanaman jagung dengan kedelai

Kebijaksanaan pemerintah dalam mening-katkan hasil pertanian untuk memenuhi  ke-butuhan  pangan mulai dialihkan ke berbagai pulau di luar Jawa melalui pembukaan lahan baru, baik lahan basah  maupun lahan  kering (Haeruman, 1988).  Pengembangan tanaman  pangan  di lahan kering yang topografinya ber-gelombang dengan kondisi iklim  basah masih dapat  dilakukan meskipun,memiliki resiko  cu-kup  tinggi,  yaitu terjadinya  erosi yang  dapat menurunkan  produktivitas lahan (Soemarwoto, 1985). Untuk menekan resiko tersebut, maka pengembangan  tanaman  pangan  tidak  hanya  ditujukan  kepada peningkatan produksi sesaat tetapi juga harus memperhatikan aspek kon-servasi  lahan agar sistem produksinya dapat berkelanjutan.   Pola pertanaman ganda (Multiple Crop-ping) adalah salah satu teknologi pengelolaan lahan pertanian yang dapat memperkecil resiko dalam pemanfaatan lahan kering untuk pe-ngembangan tanaman pangan. Pola tanam  ber-ganda  merupakan sistem pengelolaan lahan ISSN 1411 – 0067 Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 4, No. 2, 2002,  Hlm. 89 – 9689 KAJIAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN DALAM SISTEM TUMPANGSARI JAGUNG DENGAN EMPAT KULTIVAR KEDELAI PADA BERBAGAI WAKTU TANAM STUDY OF CROPS GROWTH AND YIELD IN INTERCROPPING SYSTEM BETWEEN MAIZ AND FOUR  SOYBEAN VARIETIES ON VARIOUS PLANTING TIMES Edhi Turmudi Program Studi  Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu


ABSTRACT
 The study was aimed to find the best soybean variety and corn plant time in a mixed planting system for the best yield and land use efficiency. The study involved 4 soybean varieties as sub plots and three corn planting times as main plots in a randomized block design. Result of the study indicated that Pangrango variety could be planted three weeks after the corn. However, Wilis  produced the highest yield when planted just after  corn. The highest dry corn yield was found on the corn was planted three weeks earlier than Slamet. In general, the best system  was showed by  the combination of corn and Wilis under simultaneous planting with LER 4.51

Key words
: intercropping system, corn, soybean variety, planting time
  
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan memilih kultivar kedelai dan saat tanam jagung dalam sistem tumpangsari dengan hasil dan efisiensi pemanfaatan lahan terbaik. Penelitian melibatkan empat kultivar kedelai sebagai anak petak dan tiga saat tanam jagung sebagai petak utama dalam rancangan acak kelompok. Hasil adalah sebagai berikut. Kultivar Pangrango berpotensi ditanam tiga minggu setelah jagung. Namun, kultivar Wilis menghasilkan bobot biji tertinggi jika ditanam sesaat setelah waktu tanam jagung. Hasil jagung biji kering tertinggi didapatkan jika jagung ditanam tiga minggu lebih awal daripada kultivar Slamet. Secara umum sistem tumpangsari terbaik, dengan nilai NKL 4,51, didapatkan pada kombinasi jagung dan kultivar Wilis dengan waktu taman bersamaan. 
Kata kunci
 : tumpangsari, kultivar kedelai, jagung, waktu tanam 

PENDAHULUAN
Kebijaksanaan pemerintah dalam mening-katkan hasil pertanian untuk memenuhi  ke-butuhan  pangan mulai dialihkan ke berbagai pulau di luar Jawa melalui pembukaan lahan baru, baik lahan basah  maupun lahan  kering (Haeruman, 1988).  Pengembangan tanaman  pangan  di lahan kering yang topografinya ber-gelombang dengan kondisi iklim  basah masih dapat  dilakukan meskipun,memiliki resiko  cu-kup  tinggi,  yaitu terjadinya  erosi yang  dapat menurunkan  produktivitas lahan (Soemarwoto, 1985). Untuk menekan resiko tersebut, maka pengembangan  tanaman  pangan  tidak  hanya  ditujukan  kepada peningkatan produksi sesaat tetapi juga harus memperhatikan aspek kon-servasi  lahan agar sistem produksinya dapat berkelanjutan.   Pola pertanaman ganda (Multiple Crop-ping) adalah salah satu teknologi pengelolaan lahan pertanian yang dapat memperkecil resiko dalam pemanfaatan lahan kering untuk pe-ngembangan tanaman pangan. Pola tanam  ber-ganda  merupakan sistem pengelolaan lahan Turmudi, E.                                                                                                                                                            JIPI 90 pertanian dengan   mengkombinasikan intensi-fikasi   dan   diversifikasi tanaman   (Francis,   1989). Pola pertanaman ganda yang  biasa di-lakukan petani  adalah sistem tumpangsari (In-tercropping) yaitu  penanaman lebih dari satu jenis tanaman berumur genjah dalam barisan  tanam yang  teratur  dan  saat penanamannya  bersamaan  dilakukan  pada sebidang  lahan (Francis,   1986). Pada umumnya  sistem tum-pangsari lebih menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi,jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982). Di samping keuntung-an di atas, sistem tumpangsari juga dapat mem-perkecil erosi,  bahkan  cara   ini   berhasil mempertahankan   kesuburan  tanah  (Ginting  dan  Yusuf,   1982). Keuntungan secara agrono mis dari pelaksanaan sistem  tumpangsari dapat  dievaluasi dengan cara menghitung Nisbah  Kesetaraan  Lahan (NKL). Nilai  ini menggam-barkan efisiensi lahan, yaitu jika  nilainya  > 1  berarti  menguntungkan. (Beets, 1982).  Sistem tumpangsari dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian jika jenis-jenis tanaman yang dikombinasikan dalam sistem ini membentuk interaksi saling menguntungkan (Vandermeer,  1989). Kombinasi antara jenis tanaman legum dan non legum pada sistem tumpangsari umumnya dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian, dan yang paling sering dipraktekan oleh petani adalah kom-binasi antara jagung dengan kedelai (Gomez and Gomes, 1983). Kesesuaian kombinasi ini berhubungan dengan kompatibilitas beberapa sifat yang dimiliki oleh kedua jenis tanaman ini. Jagung adalah tanaman golongan C4 meng-hendaki pencahayaan secara langsung, memi-liki habitus tinggi, tegak, dan tidak bercabang dengan kanopi yang renggang, memungkinkan tanaman ini memperoleh pencahayaan secara langsung dan dapat memberikan kesempatan bagi tanaman lain tumbuh di bawahnya. Ta-naman jagung memiliki sistem perakaran se-rabut yang menyebar dangkal, selama pertum-buhannya membutuhkan hara dalam jumlah besar, khususnya unsur N sebesar 200 – 300 kg.ha
-1
 yang diserap dari tanah. peroleh (Koswara, 1983). Kedelai termasuk tanaman golongan C3 cukup toleran terhadap naungan. Tanaman ini memiliki habitus yang pendek, tegak dan bercabang dengan kanopi yang rapat. Sistem perakarannya berupa akar tunggang yang menyebar lebih dalam dan membentuk bintil akar yang mampu menfiksasi N2 secara simbiosis dengan bakteri
Rhizobium  sp.
 (Somaatmaja, 1985). Menurut  Yutono  (1982),  efektivitas  fiksasi  N   oleh Rhizobium  sp.

pada  bintil  akar  kedelai dimulai sejak fase per-tumbuhan vegetatif awal pada umur tanaman 18 hari, terus meningkat  dan  menurun  kembali  pada  fase  pembungaan  hingga senessen. Un-sur N hasil fiksasi dimanfaatkan oleh bakteri maupun tanaman inangnya untuk pertumbuhan-nya  dan sebagian dirembeskan ke medium per-akaran yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman lain yang berada di sekitarnya.  Untuk  meningkatkan  produktivitas lahan pada sistem tumpangsari kedelai - jagung  se-harusnya  digunakan kultivar  kedelai  yang me-miliki kemampuan  memfiksasi  N2. lebih tinggi  dan  tahan naungan dengan daya  hasil  tinggi.   Meskipun sekarang  telah  dikembangkan  ber-macam-macam  kultivar  kedelai, tetapi  sampai saat ini belum diketahui kultivar mana yang me-miliki sifat-sifat di atas. Bentuk interaksi saling menguntungkan antar jenis tanaman selain ditentukan oleh kompatibilitas karakteristik dari kedua jenis tanaman, juga dipengaruhi oleh fase pertumbuhan saat berinteraksi. Hal ini sangat berhubungan dengan saat tanam di antara kedua jenis tanaman yang dikombinasikan. Hingga kini saat penanaman  yang  tepat antara jagung dengan kedelai pada sistem tumpangsari ini belum diketahui. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan  memilih  kultivar  kedelai dan jagung yang memiliki  hasil  tinggi  dalam  sistem tumpang- sari.

METODE PENELITIAN
Percobaan  dilaksanakan di lahan pertanian wilayah kelurahan Kandang Limun  Kecamatan Muara Bangkahulu Kodia Bengkulu pada  ke-tinggian 10  m dpl dengan jenis tanah  Ultisol.    
Turmudi,E.JIPI 90

pertanian dengan   mengkombinasikan intensi-fikasi   dan   diversifikasi tanaman   (Francis,   1989). Pola pertanaman ganda yang  biasa di-lakukan petani  adalah sistem tumpangsari (In-tercropping) yaitu  penanaman lebih dari satu jenis tanaman berumur genjah dalam barisan  tanam yang  teratur  dan  saat penanamannya  bersamaan  dilakukan  pada sebidang  lahan (Francis,   1986). Pada umumnya  sistem tum-pangsari lebih menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi,jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982). Di samping keuntung-an di atas, sistem tumpangsari juga dapat mem-perkecil erosi,  bahkan  cara   ini   berhasil mempertahankan   kesuburan  tanah  (Ginting  dan  Yusuf,   1982). Keuntungan secara agrono mis dari pelaksanaan sistem  tumpangsari dapat  dievaluasi dengan cara menghitung Nisbah  Kesetaraan  Lahan (NKL). Nilai  ini menggam-barkan efisiensi lahan, yaitu jika  nilainya  > 1  berarti  menguntungkan. (Beets, 1982).  Sistem tumpangsari dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian jika jenis-jenis tanaman yang dikombinasikan dalam sistem ini membentuk interaksi saling menguntungkan (Vandermeer,  1989). Kombinasi antara jenis tanaman legum dan non legum pada sistem tumpangsari umumnya dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian, dan yang paling sering dipraktekan oleh petani adalah kom-binasi antara jagung dengan kedelai (Gomez and Gomes, 1983). Kesesuaian kombinasi ini berhubungan dengan kompatibilitas beberapa sifat yang dimiliki oleh kedua jenis tanaman ini. Jagung adalah tanaman golongan C4 meng-hendaki pencahayaan secara langsung, memi-liki habitus tinggi, tegak, dan tidak bercabang dengan kanopi yang renggang, memungkinkan tanaman ini memperoleh pencahayaan secara langsung dan dapat memberikan kesempatan bagi tanaman lain tumbuh di bawahnya. Ta-naman jagung memiliki sistem perakaran se-rabut yang menyebar dangkal, selama pertum-buhannya membutuhkan hara dalam jumlah besar, khususnya unsur N sebesar 200 – 300
kg.ha
-1
 yang diserap dari tanah. peroleh (Koswara, 1983). Kedelai termasuk tanaman golongan C3 cukup toleran terhadap naungan. Tanaman ini memiliki habitus yang pendek, tegak dan bercabang dengan kanopi yang rapat. Sistem perakarannya berupa akar tunggang yang menyebar lebih dalam dan membentuk bintil akar yang mampu menfiksasi N2 secara simbiosis dengan bakteri
Rhizobium  sp.
 (Somaatmaja, 1985). Menurut  Yutono  (1982),  efektivitas  fiksasi  N   oleh
Rhizobium  sp.
pada  bintil  akar  kedelai dimulai sejak fase per-tumbuhan vegetatif awal pada umur tanaman 18 hari, terus meningkat  dan  menurun  kembali  pada  fase  pembungaan  hingga senessen. Un-sur N hasil fiksasi dimanfaatkan oleh bakteri maupun tanaman inangnya untuk pertumbuhan-nya  dan sebagian dirembeskan ke medium per-akaran yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman lain yang berada di sekitarnya.  Untuk  meningkatkan  produktivitas lahan pada sistem tumpangsari kedelai - jagung  se-harusnya  digunakan kultivar  kedelai  yang me-miliki kemampuan  memfiksasi  N
2
  lebih tinggi  dan  tahan naungan dengan daya  hasil  tinggi.   Meskipun sekarang  telah  dikembangkan  ber-macam-macam  kultivar  kedelai, tetapi  sampai saat ini belum diketahui kultivar mana yang me-miliki sifat-sifat di atas. Bentuk interaksi saling menguntungkan antar jenis tanaman selain ditentukan oleh kompatibilitas karakteristik dari kedua jenis tanaman, juga dipengaruhi oleh fase pertumbuhan saat berinteraksi. Hal ini sangat berhubungan dengan saat tanam di antara kedua jenis tanaman yang dikombinasikan. Hingga kini saat penanaman  yang  tepat antara jagung dengan kedelai pada sistem tumpangsari ini belum diketahui. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan  memilih  kultivar  kedelai dan jagung yang memiliki  hasil  tinggi  dalam  sistem tumpang- sari.

METODE PENELITIAN
Percobaan  dilaksanakan di lahan pertanian wilayah kelurahan Kandang Limun  Kecamatan Muara Bangkahulu Kodia Bengkulu pada  ke-tinggian 10  m dpl dengan jenis tanah  Ultisol.     Sistem tumpangsari jagung dengan empat kultivar kedelai                                                                                
JIPI

91

Penelitian dilaksanakan dalam bentuk per-cobaan lapangan dengan dua macam perlakuan yang disusun dalam Rancangan Petak  Terbagi ( Split Plot Design) dengan  rancangan  ling-kungan yaitu  Rancangan  Acak Kelompok Lengkap (RAKL).   Perlakuan  pada petak  uta-ma adalah waktu tanam kedelai (T) yang terdiri  atas  : (T1)  21 hari sebelum tanam jagung, (T2) tanam kedelai  bersamaan waktu dengan tanam jagung dan (T3) 21 hari setelah tanam jagung. Perlakuan  pada anak petak adalah kultivar ke-delai (V)  yang terdiri  atas (V1) kultivar Wilis, (V2) kultivar Pangrango,  (V3)kultivar   Kipas  Putih  dan  (V4)  kultivar   Slamet. Sebagai pem-banding  terhadap  tanaman tanaman tumpang- sari,  maka  ditanam secara monokultur baik ta-naman kedelai maupun tanaman jagung  dan ke-seluruhan unit percobaan diulang tiga kali. Tahap awal dari pelaksanaan percobaan adalah penyediaan benih dan pengolahan  tanah.  Benih dipilih yang normal, sehat, utuh dan mempunyai kemurnian varietas tinggi. Benih kedelai yang digunakan ada 5 kultivar sesuai dengan perlakukan. Benih jagung digunakan yang bersertifikat dengan kultivar Pioner dan telah diberi fungisida Ridomil. Pengolahan tanah meliputi pembersihan  lahan dari gulma  dan  sisa-sisa  tanaman, kemudian dicangkul hingga gembur dan dibuat petakan berukuran 2,4 m  x 4,8 m, dengan jarak antara petakan 1 m berupa parit  sedalam 20 cm.  Pemberian  do-lomit secara disebar merata dipermukaan tanah yang telah diolah dengan dosis 2 ton.ha
-1
 dilakukan 2 minggu sebelum tanam.   Penanaman benih kedelai dilaksanakan dalam tiga tahap  dengan  selang  waktu 21  hari. Sebelum benih kedelai  di tanam, terlebih dahulu diinokulasi dengan  inokulan baketri  
Rhizobium japonicum
dengan dosis 10 g ino-kulan per kg benih. Jagung ditanam serentak bersamaan dengan waktu tanam kedelai tahap kedua. Lubang tanam kedelai maupun jagung dibuat dengan cara ditugal sedalam 3 cm - 5 cm dengan jarak tanam 20 cm x 40 cm untuk kedelai dan 40 cm x 160 cm untuk jagung, Jarak tanam jagung dan kedelai pada pertanaman monokultur masing-masing : 20 cm x 80 cm dan 20 cm x  20  cm.   Tiap lubang tanam ditanam benih sebanyak 3 butir untuk jagung dan 4  butir 
benih kedelai yang kemudian ditutup dengan  tanah  yang gembur. Penjarangan dilakukan pada saat tanaman  berumur 10 - 15 hst. dengan memilih 2  tanaman  setiap  lubang untuk terus dipelihara.  Pemupukan dilakukan sesuai waktu tanam yaitu diberikan atas dasar tanaman yang ditanam lebih  dahulu, dengan  dosis  pupuk keseluruhan petakan sama masing-masing  pada saat penanaman : 25 kg.ha
-1
 Urea, 150 kg.ha
-1
 TSP dan 20 kg.ha
-1
 KCl, selanjutnya pada umur 35 hst: 75 kg.ha
-1
 Urea dan
60 kg
.ha
-1
 KCl. Untuk  menghindari  cekaman air pada tanaman,  dilakukan penyiraman dengan menggunakan gembor pada pagi atau sore hari sejak tanam hingga menjelang panen. Pengendalian hama penyakit yang menyerang tanaman dilakukan secara kimiawi. Untuk mencegah serangan  penyakit  bulai  pada jagung,  digunakan benih yang telah diberi Ridomil  35  SD.  Serangan lalat bibit dan ulat  tanah diatasi dengan memberikan
Furadan
 3 g dengan dosis
25 kg
ha
-1
 yang  diberikan saat tanam. Hama yang  menye-rang  daun, batang,  tongkol,  cabang dan po-long pada  tanaman  jagung maupun kedelai di-atasi dengan penyemprotan larutan  Azodrin 15  WSC 2 mL L
-1
 air dengan dosis 500 L ha
-1
 ke semua petak percobaan. Pemanenan kedelai dilakukan saat tanaman telah menunjukkan ciri-ciri sebagai  berikut  :  polong keras  dan  ber-warna   coklat kekuningan, biji berisi penuh, ku-lit licin dan keras, serta daun  60%  telah  ber-guguran yaitu pada umur 85 – 90 hst.   Se-dangkan untuk  tanaman  jagung dipanen ber-dasarkan kriteria : kelobot dan rambut jagung telah mengering, bijinya mengkilap dan keras telah berumur 100 - 110 hst.   Untuk memperoleh data pertumbuhan dan hasil tanaman dilakukan pengamatan terhadap 5 tanaman sampel untuk  setiap petak. Adapun peubah yang diamati terhadap  masing-masing  tanaman  antara lain : tanaman  jagung meliputi : tinggi tanaman (cm), total luas daun,  biomassa tanaman (g), bobot tongkol (g), bibit biji per tanaman (g), bobot 1.000  biji  (g), kandungan klorofil.  Untuk  tanaman  kedelai meliputi : jumlah buku subur, jumlah cabang produktif, jumlah polong,  bobot 100  biji,  bobot  biji  kering  dan total hasil  biji  kering. Analisis statistik terhadap data yang terkumpul untuk      Turmudi, E.                                                                                                                                                             
JIPI

92

membandingkan respon tanaman terhadap perlakuan yang diuji menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai

Penampilan pertumbuhan tanaman kedelai pada sistem tumpangsari dengan jagung tampak sangat beragam, akan tetapi secara umum memperlihatkan pertumbuhan yang kurang normal.  Keadaan ini disebabkan selama masa pertumbuhannya menderita cekaman air, akibat musim kemarau yang tegas selama percobaan.  Penyiraman yang dilakukan setiap pagi dan sore hari kemungkinan tidak dapat mencukupi ke-butuhan air tanaman bagi kedelai. Berdasarkan hasil analisis statistik terha-dap data peubah pertumbuhan dan hasil yang diamati dapat diketahui bahwa, jumlah buku 
subur yang dihasilkan oleh masing-masing kul-tivar menunjukkan respon yang berbeda ter-hadap variasi saat tanam.  Kultivar Wilis yang ditanam 3 minggu sebelum tanam jagung meng-hasilkan jumlah buku subur  nyata lebih banyak dibanding waktu tanam sesudahnya, kecende- rungan ini juga terjadi pada kultivar Slamet. Akan tetapi pada kultivar Pangrango cenderung menunjukkan hal yang sebaliknya, sedangkan respon Kipas Putih tidak nyata (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa setiap kultivar memiliki perbedaan respon terhadap kehadiran tanaman jagung dalam sistem tumpangsari yang diduga karena perbedaan sifat genetik. Kultivar Wilis dan Slamet memberikan respon negatif terhadap kehadiran lebih awal dari tanaman jagung. Fase pembungaan dari kedua kultivar berlangsung lebih cepat, sehingga penaungan yang lebih awal dari tanaman jagung mengu- rangi jumlah bunga yang terbentuk.    Tabel 1. Rata-rata jumlah buku subur sampel kultivar kedelai pada berbagai waktu tanam 
Kultivar
Waktu tanam Wilis Pangrango Kipas Putih Slamet
3 minggu sebelum tanam jagung 14.82 a 12.18 ab 7.84 bc 8.76 bc
0 minggu sesudah tanam jagung 7.64 bc 10.99 ab 8.56 bc 8.48 bc 3 minggu sesudah tanam jagung 8.66 bc 14.83 a 8.05 bc 4.63  c
  Angka-angka sekolom yang diikuti huruf yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 5%.
 
Berkurangnya intensitas cahaya akibat pe-naungan juga dapat menghambat proses foto-sintesis terutama pada fase generatif yang se-lanjutnya dapat mengakibatkan bunga gagal membentuk polong. Kedua kultivar ini meng-hasilkan buku subur lebih banyak pada pena-naman 3 minggu sebelum tanaman jagung. Hal yang sebaliknya bagi kultivar Pangrango diduga fase generatifnya memiliki respon negatif terha-dap intensitas cahaya tinggi, sehingga jumlah bunga terbentuk menjadi lebih sedikit. Selan-jutnya adanya penaungan lebih awal oleh tana-man jagung yaitu pada penanaman 3 minggu se- 

telah tanam jagung menghasilkan buku subur lebih banyak dibandingkan saat tanam yang lain. Kultivar Kipas Putih diduga fase gene-ratifnya memiliki toleransi terhadap intensitas cahaya, sehingga jumlah buku subur tidah dipe-garuhi oleh perbedaan saat penanaman jagung.  Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 2, dapat diketahui kultivar Pangrango, menghasilkan jumlah cabang produktif teringgi meskipun hanya berbeda nyata dengan kultivar Slamet. Demikian juga jumlah polongnya yang hanya berbeda nyata dengan kultivar Kipas Putih.      Turmudi, E.                                                                                                                                                             
JIPI

94

   Tabel 4. Rata-rata bobot tongkol pada masing-masing kultivar kedelai dalam variasi waktu tanam  Kultivar
Waktu tanam Wilis Pangrango Kipas Putih Slamet
3 minggu sebelum tanam jagung 33.68 bcd 57.61 abc 83.06    a 67.54  ab
0 minggu setelah tanam jagung 25.11   cd 17.23    d 29.07 bcd 35.66 bcd 3 minggu setelah tanam jagung 33.65 bcd 26.54 bcd 20.55   cd 27.72  cd
  Angka-angka sekolom yang diikuti huruf yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 5%.
 
Dengan demikian kultivar Wilis meru-pakan pesaing yang cukup kuat dan konsisten bagi tanaman jagung terutama pada fase per-tumbuhan tongkol. Kultivar Panggrango yang memiliki sifat tahan naungan diduga menjadi pesaing yang paling kuat bagi tanaman jagung terutama  saat terjadi interaksi fase pertumbuhan generatifnya. Terbatasnya ketersediaan air aki-bat kemarau panjang kemungkinan menye-babkan persaingan yang kuat pada pemanfaatan air dan hara. Tanaman kedelai yang per-akarannya dalam kemungkinan dapat mem-peroleh air dan hara yang cukup, sebaliknya tanaman jagung yang perakarnya dangkal
tersebar di dekat permukaan tanah tidak dapat mencukupi kebutuhan air maupun hara. Gejala cekaman air terlihat pada daun tanaman jagung  yang senantiasa menggulung pada tengah hari, sedangkan tanaman kedelai tidak memperli- hatkan gejala ini.  Pengaruh waktu tanam kedelai sebagai faktor tunggal terhadap peubah biomassa dan total hasil biji kering jagung dapat dilihat pada Tabel 5.  Jagung yang ditanam 3 minggu sebe- lum tanam kedelai menghasilkan biomassa dan total hasil biji kering nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang ditanam belakangan (3 mst kedelai)..

Tabel 5. Rata-rata biomassa dan total  hasil jagung pada berbagai waktu tanam.
 Waktu tanam Biomassa (g) Total hasil (ton ha
-1
)
3 minggu sebelum tanam kedelai 106.94 a 1.33 a
0 minggu setelah tanam kedelai 57.75   b 0.87 a 3 minggu setelah tanam kedelai 57.58   b 0.50 b
Angka-angka sekolom yang diikuti huruf yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 5%.
 
Hal ini menunjukkan bahwa tanaman ja-gung yang ditanam lebih dulu dari kedelai men-jadi lebih mampu bersaing dalam meman-faatkan faktor pertumbuhan. Tanaman jagung telah menguasai ruang tumbuh sebelum ta-naman kedelai menjadi pesaing. Perakaran ja-gung telah berkembang dan mampu menyerap sebagian besar unsur hara dari dalam tanah. Di atas permukaan tanah kanopi daun jagung berkembang untuk mengabsorpsi cahaya mata-hari tanpa bersaing dengan tanaman kedelai yang tumbuh belakangan dan berada di ba-wahnya.  Sebaliknya pada tanaman jagung yang ditanam 3 minggu setelah tanam kedelai, pertumbuhannya terhambat karena tertekan oleh
adanya persaingan yang cukup kuat dari ta-naman kedelai yang tumbuh lebih dulu.
 Produktivitas dan Efisiensi Pemanfaatan Lahan 
Produktivitas lahan yang dicapai pada sistem tumpangsari jagung - kedelai pada perco-baan ini masih jauh lebih rendah dari pada daya hasil masing-masing jenis tanaman yang diuji.  Produksi jagung rata-rata yang dihasilkan hanya mencapa  0.945 ton ha
-1
 biji kering Tabel 8)..  Rendahnya produksi tanaman jagung maupun kedelai kemungkinan besar disebabkan oleh pe-ngaruh kondisi iklim yang tidak memung-Sistem tumpangsari jagung dengan empat kultivar kedelai                                                                                
JIPI

95

kinkan.  Selama percobaan berlangsung tidak pernah turun hujan, karena itu tanaman jagung selalu menderita cekaman air yang meng-akibatkan tanaman tumbuh kerdil. Keadaan   di-  
perburuk oleh keadaan cuaca berasap  selama beberapa bulan dengan kelembaban udara sa-ngat rendah yang dapat menghambat proses fo-tosintesis pada tanaman.   
 Tabel 8. Produktivitas lahan dan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) 
Perlakuan Hasil

hasil
Nisbah hasil
hasil
Nisbah hasil
NKL
Waktu tanam

Kultivar
Biji Kedelai (ton ha-1)

Kedelai

Biji Jagung (ton ha-1)

Jagung

3 minggu sebelum tanam jagung
Wilis
Pangrango
Kipas Putih
selamet
0.87
0.69
0.55
0.63
1.78
1.41
1.12
1.29
0.64
0.49
0.44
0.44
0.73
0.56
0.55
0.55
2.51
1.97
1. 62
1.79
0 minggu (sesaat) dengan tanam jagung
Wilis
Pangrango
Kipas Putih
selamet
1.63
0.51
0.42
0.49



3.33
1.04
0.86
1.00
1.04
0.87
1.04
0.94
1.18
0.99
1.18
1.07
4.51
2.03
3.04
2.07
3 minggu sesudah tanam
Wilis
Pangrango
Kipas Putih
selamet
0.07
0.08
0.11
0.10
0.14
0.16
0.22
0.20
1.08
1.37
1.43
1.44
1.23
1.56
1.63
1.64
1.37
1.72
1.85
1.84
Rata-rata monokultur   
0.49                          

0.88



Cekaman lingkungan iklim terutaman di-derita oleh pertanaman monokultur, baik kedelai maupun  jagung sehingga hasil kedua jenis tanaman menjadi sangat rendah.  Pada kondisi yang demikian maka sistem tumpangsari jauh lebih menguntungkan dari pada pertanaman mo-nokultur. Keuntungan dari pada pelaksanaan sistem tumpangsari dapat dilihat dari meningkatnya efisiensi pemanfaatan lahan yang tercermin pada nilai NK > 1.  Sistem tumpangsari jagung - kedelai dari berbagai kultivar kedelai pada ber-bagai waktu tanam secara keseluruhan lebih me-nguntungkan dari pada sistem monokulturnya (Tabel 8).  Bahkan pada sistem tumpangsari jagung dengan kedelai Wilis yang waktu pena-namannya dilakukan secara bersamaan dapat meningkatkan efisiensi lahan hingga 4,5 kali lipat.  Secara umum dari ke empat kultivar yang diuji, Wilis merupakan kultivar yang paling
cocok ditanam secara tumpangsari dengan ja-gung dengan nilai NKL rata-rata sebesar 2,81.  Sedang waktu penanaman yang paling sesuai adalah waktu tanam bersamaan dengan nilai NKL rata-rata sebesar 2,65.

KESIMPULAN
Kedelai kultivar Pangrango yang memiliki sifat tahan naungan berpotensi untuk ditanaman secara tumpangsari dengan jagung bahkan waktu penanamannya setelah jagung. Meskipun demikian hasil kedelai tertinggi pada percobaan ini sebesar 3,33 ton ha
-1
 biji kering  dihasilkan oleh kultivar Wilis yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung pada saat tanam bersamaan.  Ada kecenderungan hasil jagung tertinggi  berupa bobot biji kering dihasilkan pa-da sistem tumpangsari dengan kedelai kultivar Slamet yang waktu penanamannya tiga minggu Turmudi, E.                                                                                                                                                             
JIPI

96

lebih awal dari waktu penanaman kedelai.  Se-cara umum kultivar kedelai yang paling me-nguntungkan pada penanaman tumpangsari de-ngan jagung adalah kultivar Wilis, sedangkan waktu penanamannya adalah penanaman pada saat yang bersamaan.  Kombinasi perlakuan ini menghasilkan nilai NKL tertinggi sebesar 4,51. Perlu diteliti lebih lanjut mengenai pemu-pukan pada sistem tumpangsari kedelai - jagung agar diperoleh informasi keuntungan ekonomis berdasarkan efisiensi pemakaian sarana pro-duksi.

DAFTAR PUSTAKA

Beets, W.C.  1982.  Multiple Cropping and Tro-pical Farming System.  Gower Publ.  Co.,  Chicago.  304 p Francis, C.A.  1989.  Biological Efficiencies in Multiple Cropping System.  In Advances in Agronomy.  Vo. 42.  Acad Press.  New York. Francis, C.A.  1986. Multiple Cropping System. Macmilan Publising Company, New York. 363 p. Ginting, A.N. and H. Yusuf.  1983.  Aliran Per-mukaan dan Erosi Pada Lahan Beberapa
Jenis Tanaman dan Hutan di Waspada, Garut.  Lap.  PUSLITHUT.  413 : 12 - 16. Gomez, A.A. and A.K. Gomez 1983. Multiple Cropping in the Humid Tropics of Asia. IDRC., Canada 248 p. Jutono.  1982.  Fiksasi Nitrogen (N
2
) pada Leguminosa Dalam Pertanian (Suatu Pe-doman Untuk Inokulasi).  Lab Mikrobio- logi Fakultas Pertanian UGM.  Yogya- karta. Koswara, J.  1983.  Jagung (Diktat Matakuliah Tanaman Setahun)  Dept. Agronomi.  Fa-kultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.  Bogor. Oka, T.N.  1977.  Teknologi Pertanian Modern Dalam Perspektif Peningkatan Produksi dan Kelestarian Pertanian Untuk Kesejah- teraan Masyarakat.  Berita Ilmu Pengeta- huan dan Teknologi.  21 (3) : 10 - 19. Soemarwoto, O.  1985.  Pengelolaan Peman-faatan Lingkungan dalam Pengembangan Lahan Kering.  Lab. Ekologi UNPAD.  Bandung. Vandermeer, J. 1989.  The Ecology on Inter-cropping.  Cambridge University.  Press.  New York.
 
   Sistem tumpangsari jagung dengan empat kultivar kedelai                                                                                 
JIPI

95

kinkan.  Selama percobaan berlangsung tidak pernah turun hujan, karena itu tanaman jagung selalu menderita cekaman air yang meng-akibatkan tanaman tumbuh kerdil. Keadaan   di-  
perburuk oleh keadaan cuaca berasap  selama beberapa bulan dengan kelembaban udara sa-ngat rendah yang dapat menghambat proses fo-tosintesis pada tanaman.   
 Tabel 8. Produktivitas lahan dan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL)


Perlakuan Hasil

hasil
Nisbah hasil
hasil
Nisbah hasil
NKL
Waktu tanam

Kultivar
Biji Kedelai (ton ha-1)

Kedelai

Biji Jagung (ton ha-1)

Jagung

3 minggu sebelum tanam jagung
Wilis
Pangrango
Kipas Putih
selamet
0.87
0.69
0.55
0.63
1.78
1.41
1.12
1.29
0.64
0.49
0.44
0.44
0.73
0.56
0.55
0.55
2.51
1.97
1. 62
1.79
0 minggu (sesaat) dengan tanam jagung
Wilis
Pangrango
Kipas Putih
selamet
1.63
0.51
0.42
0.49



3.33
1.04
0.86
1.00
1.04
0.87
1.04
0.94
1.18
0.99
1.18
1.07
4.51
2.03
3.04
2.07
3 minggu sesudah tanam
Wilis
Pangrango
Kipas Putih
selamet
0.07
0.08
0.11
0.10
0.14
0.16
0.22
0.20
1.08
1.37
1.43
1.44
1.23
1.56
1.63
1.64
1.37
1.72
1.85
1.84
Rata-rata monokultur   
0.49                          

0.88



Cekaman lingkungan iklim terutaman di-derita oleh pertanaman monokultur, baik kedelai maupun  jagung sehingga hasil kedua jenis tanaman menjadi sangat rendah.  Pada kondisi yang demikian maka sistem tumpangsari jauh lebih menguntungkan dari pada pertanaman mo-nokultur. Keuntungan dari pada pelaksanaan sistem tumpangsari dapat dilihat dari meningkatnya efisiensi pemanfaatan lahan yang tercermin pada nilai NK > 1.  Sistem tumpangsari jagung - kedelai dari berbagai kultivar kedelai pada ber-bagai waktu tanam secara keseluruhan lebih me-nguntungkan dari pada sistem monokulturnya (Tabel 8).  Bahkan pada sistem tumpangsari jagung dengan kedelai Wilis yang waktu pena-namannya dilakukan secara bersamaan dapat meningkatkan efisiensi lahan hingga 4,5 kali lipat.  Secara umum dari ke empat kultivar yang diuji, Wilis merupakan kultivar yang paling
cocok ditanam secara tumpangsari dengan ja-gung dengan nilai NKL rata-rata sebesar 2,81.  Sedang waktu penanaman yang paling sesuai adalah waktu tanam bersamaan dengan nilai NKL rata-rata sebesar 2,65.

KESIMPULAN
Kedelai kultivar Pangrango yang memiliki sifat tahan naungan berpotensi untuk ditanaman secara tumpangsari dengan jagung bahkan waktu penanamannya setelah jagung. Meskipun demikian hasil kedelai tertinggi pada percobaan ini sebesar 3,33 ton ha
-1
 biji kering  dihasilkan oleh kultivar Wilis yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung pada saat tanam bersamaan.  Ada kecenderungan hasil jagung tertinggi  berupa bobot biji kering dihasilkan pa-da sistem tumpangsari dengan kedelai kultivar Slamet yang waktu penanamannya tiga minggu Turmudi, E.                                                                                                                                                             
JIPI

96

lebih awal dari waktu penanaman kedelai.  Se-cara umum kultivar kedelai yang paling me-nguntungkan pada penanaman tumpangsari de-ngan jagung adalah kultivar Wilis, sedangkan waktu penanamannya adalah penanaman pada saat yang bersamaan.  Kombinasi perlakuan ini menghasilkan nilai NKL tertinggi sebesar 4,51. Perlu diteliti lebih lanjut mengenai pemu-pukan pada sistem tumpangsari kedelai - jagung agar diperoleh informasi keuntungan ekonomis berdasarkan efisiensi pemakaian sarana pro-duksi.

DAFTAR PUSTAKA

Beets, W.C.  1982.  Multiple Cropping and Tro-pical Farming System.  Gower Publ.  Co.,  Chicago.  304 p Francis, C.A.  1989.  Biological Efficiencies in Multiple Cropping System.  In Advances in Agronomy.  Vo. 42.  Acad Press.  New York. Francis, C.A.  1986. Multiple Cropping System. Macmilan Publising Company, New York. 363 p. Ginting, A.N. and H. Yusuf.  1983.  Aliran Per-mukaan dan Erosi Pada Lahan Beberapa
Jenis Tanaman dan Hutan di Waspada, Garut.  Lap.  PUSLITHUT.  413 : 12 - 16. Gomez, A.A. and A.K. Gomez 1983. Multiple Cropping in the Humid Tropics of Asia. IDRC., Canada 248 p. Jutono.  1982.  Fiksasi Nitrogen (N
2
) pada Leguminosa Dalam Pertanian (Suatu Pe-doman Untuk Inokulasi).  Lab Mikrobio- logi Fakultas Pertanian UGM.  Yogya- karta. Koswara, J.  1983.  Jagung (Diktat Matakuliah Tanaman Setahun)  Dept. Agronomi.  Fa-kultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.  Bogor. Oka, T.N.  1977.  Teknologi Pertanian Modern Dalam Perspektif Peningkatan Produksi dan Kelestarian Pertanian Untuk Kesejah- teraan Masyarakat.  Berita Ilmu Pengeta- huan dan Teknologi.  21 (3) : 10 - 19. Soemarwoto, O.  1985.  Pengelolaan Peman-faatan Lingkungan dalam Pengembangan Lahan Kering.  Lab. Ekologi UNPAD.  Bandung. Vandermeer, J. 1989.  The Ecology on Inter-cropping.  Cambridge University.  Press.  New York.
Sistem tumpangsari jagung dengan empat kultivar kedelai                                                                                 
JIPI

95

kinkan.  Selama percobaan berlangsung tidak pernah turun hujan, karena itu tanaman jagung selalu menderita cekaman air yang meng-akibatkan tanaman tumbuh kerdil. Keadaan   di-  
perburuk oleh keadaan cuaca berasap  selama beberapa bulan dengan kelembaban udara sa-ngat rendah yang dapat menghambat proses fo-tosintesis pada tanaman.     Tabel 8. Produktivitas lahan dan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL)  Perlakuan Hasil 
Nisbah hasil
Hasil
Nisbah hasil
Waktu tanam Kultivar
Biji Kedelai (ton ha
-1)Kedelai
Biji Jagung (ton ha
-1)Jagung NKL
Wilis 0.87 1.78 0.64 0.73 2.51
Pangrango 0.69 1.41 0.49 0.56 1.97
3 minggu sebelum tanam jagung Kipas Putih 0.55 1.12 0.44 0.55 1.62  Slamet 0.63 1.29 0.44 0.55 1.79 Wilis 1.63 3.33 1.04 1.18 4.51
Pangrango 0.51 1.04 0.87 0.99 2.03
0 minggu (sesaat) dengan tanam jagung
Kipas Putih 0.42 0.86 1.04 1.18 3.04  Slamet 0.49 1.00 0.94 1.07 2.07 Wilis 0.07 0.14 1.08 1.23 1.37
Pangrango 0.08 0.16 1.37 1.56 1.72
3 minggu sesudah tanam jagung Kipas Putih 0.11 0.22 1.43 1.63 1.85  Slamet 0.10 0.20 1.44 1.64 1.84 Rata-rata monokultur    0.49                           0.88

Cekaman lingkungan iklim terutaman di-derita oleh pertanaman monokultur, baik kedelai maupun  jagung sehingga hasil kedua jenis tanaman menjadi sangat rendah.  Pada kondisi yang demikian maka sistem tumpangsari jauh lebih menguntungkan dari pada pertanaman mo-nokultur. Keuntungan dari pada pelaksanaan sistem tumpangsari dapat dilihat dari meningkatnya efisiensi pemanfaatan lahan yang tercermin pada nilai NK > 1.  Sistem tumpangsari jagung - kedelai dari berbagai kultivar kedelai pada ber-bagai waktu tanam secara keseluruhan lebih me-nguntungkan dari pada sistem monokulturnya (Tabel 8).  Bahkan pada sistem tumpangsari jagung dengan kedelai Wilis yang waktu pena-namannya dilakukan secara bersamaan dapat meningkatkan efisiensi lahan hingga 4,5 kali lipat.  Secara umum dari ke empat kultivar yang diuji, Wilis merupakan kultivar yang paling
cocok ditanam secara tumpangsari dengan ja-gung dengan nilai NKL rata-rata sebesar 2,81.  Sedang waktu penanaman yang paling sesuai adalah waktu tanam bersamaan dengan nilai NKL rata-rata sebesar 2,65.

KESIMPULAN
Kedelai kultivar Pangrango yang memiliki sifat tahan naungan berpotensi untuk ditanaman secara tumpangsari dengan jagung bahkan waktu penanamannya setelah jagung. Meskipun demikian hasil kedelai tertinggi pada percobaan ini sebesar 3,33 ton ha
-1 biji kering  dihasilkan oleh kultivar Wilis yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung pada saat tanam bersamaan.  Ada kecenderungan hasil jagung tertinggi  berupa bobot biji kering dihasilkan pa-da sistem tumpangsari dengan kedelai kultivar Slamet yang waktu penanamannya tiga minggu Turmudi, E.                                                                                                                                                            
JIPI

96

lebih awal dari waktu penanaman kedelai.  Se-cara umum kultivar kedelai yang paling me-nguntungkan pada penanaman tumpangsari de-ngan jagung adalah kultivar Wilis, sedangkan waktu penanamannya adalah penanaman pada saat yang bersamaan.  Kombinasi perlakuan ini menghasilkan nilai NKL tertinggi sebesar 4,51. Perlu diteliti lebih lanjut mengenai pemu-pukan pada sistem tumpangsari kedelai - jagung agar diperoleh informasi keuntungan ekonomis berdasarkan efisiensi pemakaian sarana pro-duksi.

DAFTAR PUSTAKA

Beets, W.C.  1982.  Multiple Cropping and Tro-pical Farming System.  Gower Publ.  Co.,  Chicago.  304 p Francis, C.A.  1989.  Biological Efficiencies in Multiple Cropping System.  In Advances in Agronomy.  Vo. 42.  Acad Press.  New York. Francis, C.A.  1986. Multiple Cropping System. Macmilan Publising Company, New York. 363 p. Ginting, A.N. and H. Yusuf.  1983.  Aliran Per-mukaan dan Erosi Pada Lahan Beberapa
Jenis Tanaman dan Hutan di Waspada, Garut.  Lap.  PUSLITHUT.  413 : 12 - 16. Gomez, A.A. and A.K. Gomez 1983. Multiple Cropping in the Humid Tropics of Asia. IDRC., Canada 248 p. Jutono.  1982.  Fiksasi Nitrogen (N
2
) pada Leguminosa Dalam Pertanian (Suatu Pe-doman Untuk Inokulasi).  Lab Mikrobio- logi Fakultas Pertanian UGM.  Yogya- karta. Koswara, J.  1983.  Jagung (Diktat Matakuliah Tanaman Setahun)  Dept. Agronomi.  Fa-kultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.  Bogor. Oka, T.N.  1977.  Teknologi Pertanian Modern Dalam Perspektif Peningkatan Produksi dan Kelestarian Pertanian Untuk Kesejah- teraan Masyarakat.  Berita Ilmu Pengeta- huan dan Teknologi.  21 (3) : 10 - 19. Soemarwoto, O.  1985.  Pengelolaan Peman-faatan Lingkungan dalam Pengembangan Lahan Kering.  Lab. Ekologi UNPAD.  Bandung. Vandermeer, J. 1989.  The Ecology on Inter-cropping.  Cambridge University.  Press.  New York.
 
  
 
   

No comments:

Post a Comment

Jangan cuma lihat dan baca
Tinggalkan komentar dunk !!